Showing posts with label Homeworks. Show all posts
Showing posts with label Homeworks. Show all posts

Sunday, 9 November 2014

Kerajaan Hindu Budha di Indonesia

KERAJAAN HINDU DI INDONESIA
Agama Hindu yang dibawa dari India berpengaruh di Indonesia. Salah satu bentuknya adalah munculnya kerajaan-kerajaan Hindu, seperti Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Kediri, Singasari, dan Majapahit.

1.      Kerajaan Kutai
Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai didirikan sekitar tahun 400 masehi. Letaknya di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Raja pertamanya bernama Kudungga. Raja yang terkenal adalah Mulawarman. Mulawarman menyembah Dewa Syiwa. Dalam suatu upacara Raja Mulawarman menghadiahkan 20.000 ekor sapi kepada Brahmana. Untuk  memperingati upacara itu maka didirikan sebuah Yupa. Dalam Yupa itu ditulis berita mengenai Kerajaan Kutai.


2.      Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri terletak di sekitar Kali Berantas, Jawa Timur. Kerajaan Kediri berjaya pada pemerintahan Raja Kameswara yang bergelar Sri Maharaja Sirikan Kameswara. Kameswara meninggal pada tahun 1130. Penggantinya adalah Jayabaya. Jayabaya adalah raja terbesar Kediri. Ia begitu terkenal karena ramalannya yang disebut Jangka Jayabaya. Raja Kediri yang terakhir adalah Kertajaya yang meninggal tahun 1222. Pada tahun itu Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok di Desa Ganter, Malang. Peninggalan-peninggalan Kerajaan Kediri antara lain Prasasti Panumbangan, Prasasti Palah, Kitab Smaradhahana karangan Empu Dharmaja, Kitab Hariwangsa karangan Empu Panuluh, Kitab Krinayana karangan Empu Triguna, dan Candi Panataran.

3.      Kerajaan Tarumanegara
Tarumanegara adalah kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa. Kerajaan ini berdiri kira-kira pada abad ke- 5 Masehi. Lokasi kerajaan itu sekitar Bogor, Jawa Barat. Rajanya yang terkenal adalah Purnawarman. Purnawarman memeluk agama Hindu yang menyembah Dewa Wisnu. Pada zaman Purnawarman, kerajaan Tarumanegara telah mampu membuat saluran air yang diambil  dari sungai Citarum. Saluran air itu berfungsi untuk mengairi lahan pertanian dan menahan banjir.

4. Kerajaan Singasari
Kerajaan Singasari terletak di Singasari, Jawa Timur. Luasnya meliputi wilayah Malang sekarang. Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok. Beliau memerintah tahun 1222-1227 M. Para penggantinya adalah Anusapati (1227-1248), Panji Tohjaya (1248), Ranggawuni
(1248-1268), Kertanegara (1268 -1292).
Beberapa peninggalan masa kebesaran Singasari antara lain:
1. Candi Jago/Jajaghu, sebagai ma-kam Wisnuwardhana,
2. Candi Singasari dan Candi Jawi, sebagai makam Kertanegara,
3. Candi Kidal, sebagai makam Anusapati,
4. Patung Prajnaparamita, sebagai perwujudan Ken Dedes.


5. Kerajaan Majapahit
Puncak kejayaan kerajaan Hindu di Indonesia adalah pada masa kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit terletak di hutan Tarik dekat delta sungai Berantas, Mojokerto, Jawa Timur.

·         Raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan Majapahit antara lain :

a.      Raden Wijaya (1293-1309)
Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya yaitu seorang keturunan penguasa Singasari. Ketika Singasari diserang oleh Jayakatwang dari Kediri, Raden Wijaya berhasil meloloskan diri ke Madura. Beliau minta bantuan Wiraraja. Wiraraja menganjurkan supaya Raden Wijaya kembali ke Kediri, berpura- pura mengabdi kepada Jayakatwang. Sebagai imbalan Jayakatwang menghadiahkan daerah hutan Tarik kepada Raden Wijaya. Raden Wijaya bergabung dengan pasukan Kubilai Khan dari Cina menyerang Jayakatwang. Pasukan Jayakatwang berhasil dikalahkan. Raden Wijaya mengatur siasat untuk mengusir pasukan Cina. Diadakan pesta kemenangan secara besar-besaran. Ketika tentara Cina terlena dalam kemabukan, anak buah Raden Wijaya menyerang mereka. Banyak pasukan Cina terbunuh. Hanya sebagian kecil yang berhasil melarikan diri kembali ke Cina. Raden Wijaya kemudian menjadi raja pada tahun 1294, dengan gelar Kertarajasa Jayawardana. Raden Wijaya memerintah selama 16 tahun.

b. Jayanegara (1309-1328)
Raden Wijaya digantikan oleh puteranya, Kalagemet. Kalagemet adalah putra Raden Wijaya dan putri Melayu, Dara Petak. Setelah menjadi raja, Kalagemet bergelar Sri Jayanegara. Pada saat Jayanegara menjadi raja, sering terjadi pemberontakan, antara lain pemberontakan Ranggalawe, Sora, Nambi, dan Kuti.
Pemberontakan Kuti sangat berbahaya. Akibat pemberontakan itu, Jayanegara melarikan diri ke Badander. Jayanegara dikawal oleh pasukan Bayangkari yang dipimpin oleh Gajah Mada. Berkat pengawalan pasukan Bayangkari, raja selamat dari pemberontakan Kuti. Berkat bantuan Gajah Mada, Jayanegara dapat merebut kembali tahta Majapahit. Atas jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi Patih di Kahuripan. Dua tahun kemudian, Gajah Mada diangkat menjadi patih di Daha.

c. Tribuwanatunggadewi (1328-1350)
Jayanegara memerintah sampai tahun 1328. Beliau wafat tanpa meninggalkan putra. Seharusnya, Jayanegara digantikan oleh Rajapatni (Gayatri). Namun, karena Rajapatni hidup membiara, pemerintahan diserahkan pada putrinya, Sri Gitarja.
Ketika menjadi ratu, Sri Gitarja bergelar Tribuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani.
Pada masa itu terjadi pemberontakan Sadeng. Gajah Mada diangkat menjadi pejabat perdana menteri (maha patih) Majapahit menggantikan Arya Tadah yang sedang sakit. Gajah Mada ditugasi memimpin penumpasan pemberontakan Sadeng. Gajah Mada berhasil melaksanakan tugas itu. Beliau diangkat menjadi maha patih. Saat dilantik, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Dalam sumpah itu tersirat cita-cita Gajah Mada mempersatukan Nusantara. Adapun yang dimaksud dengan Nusantara ketika itu adalah Hasta Dwipa Nusantara (delapan pulau), yaitu Malaka, Sumatra, Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil (Nusa Tenggara), Maluku, dan Irian (Gurun).
Untuk mewujudkan cita-cita itu, Gajah Mada membangun armada laut. Karena memiliki angkatan laut yang kuat, Kerajaan Majapahit dikenal seba-gai kerajaan maritim. Pimpinan armada laut dipercayakan kepada Empu Nala. Dengan armada yang kuat, Majapahit berhasil menaklukkan Dompo pada tahun 1340 dan Bali pada tahun 1343.

d. Hayam Wuruk (1334-1389)
Rajapatni (Gayatri) wafat pada tahun 1350. Setelah ibundanya wafat, Ratu Tribuwanatunggadewi menyerahkan tahta Majapahit kepada putranya, Hayam Wuruk. Ketika naik tahta Hayam Wuruk baru berusia 16 tahun. Setelah naik tahta Hayam Wuruk bergelar Sri Rajasanegara. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengalami zaman keemasan. Hayam Wuruk didampingi oleh Patih Gajah Mada. Hayam Wuruk menjadi raja Majapahit yang paling besar. Gajah Mada meneruskan citacitanya. Satu per satu kerajaan di Nusantara dapat ditaklukkan di bawah Majapahit. Wilayah kerajaannya meliputi hampir seluruh wilayah Nusantara sekarang, ditambah Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Melayu. Pada masa ini, Majapahit menjalin hubungan dengan kerajaan- kerajaan di daerah daratan Asia Tenggara seperti India, Muangthai, Kamboja, dan Cina. Dengan kemajuan hubungan itu, perdagangan dan pelayaran kerajaan Majapahit semakin maju. Bandar-bandar Majapahit, seperti Ujung Galuh, Tuban, Gresik, dan Pasuruan ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Cina, India, dan Persia.
Selain berkembang menjadi kerajaan maritim yang besar, Majapahit juga menjadi kerajaan agraris yang maju. Hayam Wuruk membangun waduk dan saluran irigasi untuk mengairi lahan pertanian. Beberapa jalan dan jembatan penyeberangan juga dibangun untuk mempermudah lalu lintas antardaerah. Hasil pertanian Majapahit antara lain beras, rempahrempah, kapas, sutera, dan hasil-hasil perkebunan.
Hayam Wuruk juga memperhatikan kegiatan kebudayaan. Hal ini terbukti dengan banyaknya candi yang didirikan dan kemajuan dalam bidang sastra. Candi-candi peninggalan Majapahit, antara lain Candi Sawentar, Candi Sumberjati, Candi Surawana, Candi Tikus, dan Candi Jabung. Karya sastra yang terkenal pada masa Kerajaan Majapahit ialah Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca dan Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular. Dalam kitab Negarakertagama terdapat istilah Pancasila. Sedangkan di dalam Sutasoma terdapat istilah Bhinneka Tunggal Ika. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, terjadi Perang Bubat. Perang Bubat terjadi antara Kerajaan Majapahit dan kerajaan Pajajaran. Hayam Wuruk bermaksud mempersunting Diyah Pitaloka (Ciptaresmi), putri raja Pajajaran. Pihak Majapahit mengirim utusan untuk melamar. Pihak Pajajaran dan utusan tersebut membuat kesepakatan. Isinya raja Majapahit tidak melamar ke istana Pajajaran, tetapi di perbatasan kedua kerajaan, yaitu di Desa Bubat. Raja Pajajaran memimpin secara langsung rombongan putrinya ke Desa Bubat. Patih Gajah Mada mempunyai rencana lain. Gajah Mada memkasa raja Pajajaran yang sudah ada di Desa Bubat untuk mempersembahkan putrinya sebagai upeti kepada Raja Hayam Wuruk. Permintaan itu ditolak oleh raja Pajajaran, sehingga terjadi perang besar di Desa Bubat. Seluruh rombongan Kerajaan Pajajaran, termasuk raja dan puterinya tewas. Hayam Wuruk tidak berkenan atas tindakan Gajah Mada. Sejak peristiwa itu, hubungan keduanya renggang. Gajah Mada wafat pada tahun 1364 M. Sedangkan Hayam Wuruk wafat padatahun 1389. Setelah dua tokoh ini wafat, Majapahit mengalami kemunduran.





e. Kusumawardhani-Wirakramawardhana (1389-1429)
Sepeninggal Hayam Wuruk, terjadi perebutan kekuasaan di Majapahit. Pengganti Hayam Wuruk adalah Kusumawardhani yang bersuamikan Wirakramawardhana. Wirakramawardhanalah yang memimpin Majapahit tahun 1389-1429. Bhre Wirabumi (anak selir Hayam Wuruk) diberi kekuasaan di Blambangan. Menurut Bhre Wirabumi, dirinya yang berhak menjadi raja di Majapahit. Pada tahun 1401-1406 terjdi perang saudara di Paregreg. Bhre Wirabumi terbunuh dalam perang itu. Tumbuhlah benih persengketaan berlarut-larut di antara keturunan Hayam Wuruk. Pada tahun 1429 Wirakramawardana wafat. Wirakramawardana digantikan oleh Suhita. Suhita digantikan oleh Bhre Tumapel Kertawijaya. Beliau hanya empat tahun memerintah. Pengganti berikutnya adalah Bhre Pamotan yang bergelar Srirajasawardhana. Bhre Pamotan memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit ke Kahuripan untuk menghindari pertentangan keluarga. Bhre Pamotan wafat pada tahun 1453 dan tidak ada penggantinya. Baru pada tahun 1456, muncul Bhre Wengker yang bergelar Girindra Wardhana. Pertentangan keluarga kerajaan Majapahit terus berlanjut sampai pemerintahan Ranawijaya. Pada tahun 1522, Majapahit dikuasai oleh Demak

6. Kerajaan Mataram Hindu
Kerajaan mataram hindu di perintah oleh seorang raja yang bijaksana yaitu raja sanna. Raja kerajaan mataram hindu yang terkenal adalah sanjaya. Kerajaan mataram hindu meninggalkan sebuah prasasti yang di temukan di daerah canggal. 












                           

KERAJAAN BUDDHA DI INDONESIA
1. Kerajaan Kalingga di Jepara (Jawa Tengah) tahun 640 M (Kerajaan Budha)
Raja yang terkenal : Ratu Shima

2. Kerajaan Sriwijaya di Palembang abad VII (Kerajaan Budha)
Raja yang pertama : Sri Jaya Naga
Raja yang terkenal : Bala Putra Dewa

3. Kerajaan Negara Dipa
Di Kalimantan Selatan th. 1387-1495
Kerajaan Budha
Raja Pertama : Mpu Jatmaka
Raja Terkenal : Lambung Mangkurat

4.Kerajaan Melayu
Di Sumatra th. 1183-1347
Kerajaan Budha
Raja pertama : Srimat Trailokyaraja
Raja terkenal : Aditya Warman

5. Kerajaan Mataram Budha (750 M)
Didirikan oleh wangsa/dinasti Syailendra
Raja-raja yang memerintahkan Kerajaan Mataram Budha adalah:
1. Bhanu

2. Wisnu
3. Indra
4. Samaratungga

6. Kerajaan Talaga ( Sunda ) hanya sedikit sekali literaturnya :
Seperti dianalisis Ali Sastramijaya, dikenal sebagai bhatara agama Budha. Bahwa kerajaan Talaga itu beragama Budha tersurat dalam Kanda Babad Talaga (Babad Talaga dan [? jeung--Pen.] Lalakon ka Tanah Suci karangan R. Kartadilaga, 1939 (diedit ulang R. Kartadilaga dan H. Hasanoedin, 1940) dalam bahasa cirebonan sebagai berikut:
wonten kanda babad
kang winarni/bek semana maksi djaman boeda/ing talaga.

Saturday, 8 November 2014

10 Jenis Kata Bahasa Indonesia

1. Kata benda (nomina)
meja, kursi
2. Kata ganti (pronomina)
yang, siapa, ini,itu
kata ganti orang ke 1 tunggal: saya, aku, jamak: kita, kami
kata ganti orang ke 2 tunggal: kamu, engkau, jamak: kalian, kamu sekalian
kata ganti orang ke 3 tunggal: dia, beliau, jamak: mereka, -nya
3. Kata kerja (verba)
mencuci, memasak
4. Kata sambung (konjungsi)
dan, atau, maupun
5. Kata depan (preposisi)
di, ke, dari, pada, kepada, atas, oleh
6. Kata bilangan (numeralia)
kesatu, kedua
7. Kata seru (interjeksi)
ah, wah, aduhai, amboi
8. Kata sandang (artikel)
si, sang, dang, hang, para
dang= untuk wanita yang dihormati
hang= untuk pria yang dihormati
9. Kata keterangan (adverbia)
semalam, kemarin, besok, disana, disini
10. Kata sifat (adjektiva)
... banget. ... sekali

Friday, 7 November 2014

40 Majas Bahasa Indonesia dan Contohnya

Nih bro gua lagi ngafalin majas.. gile mumet otak ane -_-
Karena itu ane nulis di sini, sekalian buat bagi- bagi ilmu hehehhe
Ini ane jelasin pake bahasa ane sendiri, tapi intinya sama
Sumber ane dapet dari diktat bahasa ane
Thx for reading :D

1. Asosiasi/Simile: menggunakan ibarat, bak, bagai, laksana
Wajahnya laksana bulan purnama
Dia cantik bak bidadari

2. Alegori: menunjukkan perbandingan utuh
Suami sebagai nahkoda, istri sebagai juru mudi
Kisah kancil dan burung gagak

3. Eufimisme: menunjuk ke kata yang lebih lembut
Anak ibu tidak bodoh, tapi kurang belajar
Mata nenek kurang jelas saat membaca koran

4. Metafora: menunjukkan perbandingan sebagian
Raja siang telah kembali ke peraduannya
Rio adalah bintang kelas dunia

5. Alusio: menggunakan peribahasa/pepatah
Dia itu tong kosong nyaring bunyinya
Adik suka lempar batu sembunyi tangan

6. Personifikasi: benda mati sifatnya seperti hidup
Burung-burung bernyanyi ceria di pagi hari
Ombak berkejar-kejaran di pantai

7. Depersonifikasi: benda hidup sifatnya seperti benda mati
Kamu bunga, aku tangkainya
Kalau kamu bintang, aku bulannya

8. Hiperbola: melebih-lebihkan/lebay
Hatiku hancur, jantungku remuk saat aku melihat kau bersamanya
Aku terkejut setengah mati

9. Repetisi: pengulangan( di pidato)
Kita telah merdeka! Kita telah merdeka! Indonesia telah merdeka!

10. Tautologi: pengulangan (di kalimat)
Dia terus menangis, menangis dan menagis tanpa henti

11. Antitesis: berlawanan di satu kalimat
Jatuh bangun sudah dia alami berulang kali
Manis pahit kehidupan adalah pengalaman yang berharga

12. Paradoks: melukiskan hal yang seharusnya searah namun berlawanan
Justru karena kecantikannya dia menjadi sengsara bukan bahagia
Cinta membutatnya tertawa dan cinta juga membuatnya menangis

13. Pleonasme: sebenarnya tidak diperlukan
Nia naik ke atas panggung
Adik mendongak ke atas langit

14. Tropen: pengertiannya sama (sinonim)
Ayah terbang ke Singapura
Aku naik gunung

15. Metonimia: menggunakan merek
Dia minta dibelikan gudang garam di warung (rokok)
Dia cuci muka memakai garnier (sabun)

16. Koreksio/paralipsis: membetulkan
Dia adalah pacarku, eh maksudnya temanku
Adik sedang baca koran, eh salah baca majalah

17. Klimaks: dari tingkatan rendah ke tinggi
Dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, kakek-kakek, nenek-nenek ikut memeriahkan acara itu

18. Antiklimaks: dari tingkatan tinggi ke rendah
Jangankan seratus ribu, lima puluh ribu, sepuluh ribu, bahkan seribu perak pun dia tidak punya

19. Paralelisme
-Anafora: Yang diulang di depan
Oh sayangku jangan pergi
Oh sayangku jangan tinggalkan aku
Oh sayangku tetaplah di sini

-Epifora: yang diulang di belakang
Aku mencitaimu, kekasihku
Aku menyayangimu, kekasihku
Aku merindukanmu, kekasihku

20. Paronomasia: homofon
Peserta rapat duduk dengan rapat
Awas bisa ini bisa membunuhmu

21. Sinekdokhe pars pro toto: sebagian untuk keseluruhan
Dia belum kelihatan batang hidungnya

22. Sinekdokhe totem pro parte: keseluruhan untuk sebagian
Sekolah kita keluar sebagai juara satu
Indonesia menjadi juara World Cup

23. Simbolik: menggunakan benda sbg simbol
Hitam lembang kematian
Melati lambang suci

24. Kontradiksio Interminis: bertentangan dengan kalimat sebelumnya
Semua anak masuk di kelas kecuali Asep

25. Zeugma: bertentangan di kalimat
Dia anak yang rajn dan malas di sekolah
Aku ingat tapi lupa cara menjawab no 32

26. Ekslamasi: menggunakan kata seru/ seruan
Ya Tuhan lindungilah kami!

27. Inversi: predikat di depan
Besar sekali gajinya
Cantik sekali parasnya

28. Elipsis: hanya menggunakan objek/predikat/subjek saja
Saya? (saya yang kamu panggil)
Pergi? (apa saya harus pergi)

29. Ironi: sindiran
Bagus sekali tulisanmu seperti cakar ayam
Rajin sekali kamu tiap hari terlambat

30. Sinisme: lebih kejam dari ironi
Dasar gendut banyak gaya
Muntah aku liat kamu

31. Sarkasme: lebih kejam dari sinisme
Wajahmu seperti monyet, memuakkkan

32. Antonomasia: menggunakan ciri2
Si cerewet sudah datang
Si gendut sedang makan

33. Litotes: merendahkan diri
Mampirlah ke gubukku
Mengapa kamu bertanya ke orang bodoh sepertiku

34. Prifrase: satu kalimat yang dijabarkan
Hari sudah malam jadi dia pulang
Matahari telah tenggenam di ufuk barat jadi dia pulang

35. Retoris: pertanyaan yang tak perlu dijawab
Apakah semua orang ingin memiliki umur panjang?
Mana mungkin orang mati hidup kembali?

36. Asidenton: kata penghubung dihilangkan
Buku, alat tulis, pulpen, penghapus dibelinya di toko itu

37. Polisidenton: memakai kata pengubung
Saat dia membuka pintu, maka dilihatnya adiknya sedang bermain, sehingga dia marah
38.Simbolk: memakai benda lain sebagai simbol/lambang
Melati lambang kesucian
Hitam lambang kematian

39. Pretarito: menyembunyikan maksud sebenarnya (harus diselidiki)
Tak perlu dikasitahu pasti kamu akan tahu sendiri

40. Oksimoron: pendirian dengan 2 antonim
Olahraga mendaki memang menyenangkan namun penuh bahaya

Friday, 24 October 2014

TUGAS SEJARAH INDONESIA KELAS X

Pembukaan lahan dengan menebang pohon dapat saja dikatakan sebagai kearifan lokal yang perlu dijadikan pelajaran. Namun, pelajaran yang diambil di sini adalah sebab dan akibat dari pembukaan lahan tersebut; bukan pelajaran yang patut untuk dicontoh.Hingga kini, banyak oknum yang beralasan untuk membuka lahan dengan cara menebang pohon karena keterbasan lahan pertanian maupun pemukiman di kota. Padahal, pembukaan lahan dengan seperti ini sangatlah merugikan. Pohon sangat berguna bagi kehidupan manusia dan hewan; mencegah terjadinya banjir, tanah longsor, menetralisir polusi udara, menjadi rumah bagi banyak hewan, dan masih banyak lagi. Setelah mengetahui sebab dan akibat yang akan diperoleh dari penebangan hutan, harusnya kita dapat menyediakan alternatif lain untuk sebab terjadinya penebangan hutan tanpa menciptakan akibat lain yang merugikan. Pemerintah telah menjawab hal tersebut dengan di buatnya Rusun atau Rumah Susun untuk penyelesaian keterbatasan lahan bagi pemukiman. Lagipula kita juga dapat bercocok tanam dengan cara hidroponik atau aeroponik(walau belum bisa diterapkan untuk semua tanaman) namun seharusnya kita dapat mengurangi aktivitas pembukaan lahan dengan menebang pohon.
Selanjutnya, pendapat saya tentang pembukaan lahan dengan membakar hutan adalah tidak setuju. Alasannya sama dengan alasan diatas, bahkan lebih parah karena pembukaan lahan dengan membakar hutan akan memimbulkan akibat yang lebih banyak termasuk kemungkinan akan membunuh manusia atau hewan langka karena kebakaran. Pembukaan lahan dengan membakar hutan juga akan menyebabkan polusi udara dan kabut. Permasalah ini juga akan memicu resiko kecelakan bermotor, sulitnya beraktifitas, sesak napas, dan berbagai penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Jadi kesimpulan yang dapat saya sampaikan adalah bahwa seharusnya pembukaan lahan dengan penebangan pohon ataupun pembakaran hutan tidak lagi di butuhkan jika masih ada alternatif lain yang lebih bijaksana dan tidak menyebabkan akibat negatif bagi kehidupan kita. Berbeda dengan manusia purba zaman dahulu, kita sekarang sebagai orang berpendidikan yang tentu akan memlih jalan terbaik yang tidak akan menyebabkan masalah bersama untuk manusia dan tidak mengambil jalan pintas.
Pola tempat tinggal dengan bercocok tanam berhubungan erat. Setelah peralihan zaman Mesolitikum ke Neolitikum menandakan adanya revolusi kebudayaan dari food gathering ke food producing dengan Homo sapien sebagai pendukungnya. Saat mulai bercocok tanam, mereka mulai mencoba memiliki tempat tinggal. Adapun, pola tempat tinggal dengan dengan bercocok tanaman adalah sebagai berikut. Manusia purba yang tinggal di dataran bercocok tanam padi. Yang tinggal di lahan miring landai bersawah, berkebun (teh, kopi, dsb). Yang tinggal di lahan miring berkebun sayur. Yang tinggal di lahan terjal  berkebun tanaman keras / tahunan (kelawa sakit, dsb). Yang tinggal di dekat sungai bertanam tanaman buah.
            Berikut adalah alat-alat bercocok tanam pada periode tersebut:
1.     Kapak Lonjong
Kapak lonjong adalah kapak yang berpenampang lonjong, berasal dari  kebudayaan zaman neolitikum.  Permukaan kapak lonjong sudah diasah halus.
Sebagian besar kapak lonjong dibuat dari batu kali, dan warnanya kehitam-hitaman. Bentuk keseluruhan dari kapak tersebut adalah bulat telur dengan ujungnya yang lancip menjadi tempat tangkainya, sedangkan ujung lainnya diasah hingga tajam. Fungsi kapak lonjong yaitu sebagai cangkul/pacul. Banyak ditemukan di Irian, Seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa dan Serawak.

2.     Kapak Persegi
Kapak persegi. Pada umumnya kapak ini berbentuk memanjang dengan penampangan lintang persegi. Fungsinya tergantung ukuran. Apabila berukuran besar, kapak persegi berfungsi sebagai cangkul dan namanya pun lebih dikenal dengan beliung, sedangkan yang kecil biasa disebut tatah dan berfungsi sebagai alay untuk memahat.  Kapak persegi ditemukan di daerah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi Dan Kalimantan.

3.     Flakes
Flakes berupa alat alat kecil terbuat dari batu yang disebut dengan flakes atau alat serpih. Flakes selain terbuat dari batu biasa juga ada yang dibuat dari batu-batu indah berwarna seperti calsedon. Berfungsi sebagai alat untuk menguliti hewan buruannya, mengiris daging atau memotong umbi-umbian. Ditemukan di Sangiran, Pacitan, Gombong, Parigi, Jampang Kulon, Ngandong (Jawa), Lahat (Sumatera), Batturing (Sumbawa), Cabbenge (Sulawesi), Wangka, Soa, Mangeruda (Flores).

Manusia purba banyak tinggal di tepi sungai karena air sungai memberikan banyak manfaat dan merupakan kebutuhan pokok manusia. Bukan hanya dibutuhkan manusia, tapi air juga dibutuhkan tumbuhan dan binatang, ketersedian air di sungai mengundang hadirnya binatang untuk hidup disekitarnya dan juga memberkan kesuburan pada tumbuhan. Tumbuhan dan binatang inilah yang juga menjadi sumber makanan manusia purba sehinga mereka memilih tinggal di dekat sungai untuk memenuhi kebutuhannya. Alasan lainnya adalah karena keberadaan air juga dimanfaatkan manusia sebagai sarana penghubung, melalu sungai inilah manusia purba dapat melakukan mobilitas atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari suatu tempat ke tempat lainnya.
Pola nomaden manusia purba yaitu pola berpindah pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain saat manusia purba tersebut merasa di tempat tersebut mulai berkurang sumber bahan makanan. Biasanya manusia purba mencari lingkungan dekat sungai, danau, atau sumber air lainnya.
Manusia purba juga memasuki fase bertempat tinggal sementara, misalnya di gua karena gua merupakan tempat yang hangat dan baik untuk perlindungan dari cuaca, hewan buas dan ancaman lainnya karena mereka bertempat tinggal di tempat yang mereka rasa aman, dekat dengan bahan makanan.
Manusia purba memilih tinggal di tepi pantai karena pantai dekat dengan sumber makanan dan air. Biasanya di pantai juga terdapat goa-goa yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat tinggal dan  jauh dari binatang (darat) yang buas.
Kaitan antara manusia yang sudah bertempat tinggal tetap dengan adanya sistem kepercayaan adalah setelah mereka bertempat tinggal tetap, mereka menyadari adanya kehidupan setelah mati. Sistem kepercayaan itulah yang telah melahirkan tradisi megalitik mereka mendirikan batu-batu besar seperti dolmen, punden berundak dan sarkofagus. Mereka sadar adanya kekuatan lain yang maha kuat diluar dirinya, kepercayaan kehidupan setelah mati setelah mati. Kepercayaan yang berkembang saat itu adalah kepercayaan animisme (kepercayaan memuja roh nenek moyang), dan dinamisme (kepercayaan kepada benda-benda tertentu yang memiliki kekuatan gaib).
Sistem kepercayaan masyarakat juga berhubungan dengan pola mata pencaharian. Seiring perkembangan pelayaran, masyarakat zaman praaksara akhir juga mulai mengenal sedekah laut. Sudah barang tentu kegiatan upacara ini lebih banyak dikembangkan di kalangan nelayan. Bentuknya mungkin semacam selamatan apabila berlayar jauh atau mungkin saat pembuatan perahu.
Tradisi megalitik yang masih tersisa contohnya adalah sedekah laut. Sedekah laut merupakan bagian ritual yang pada saat ini yang masih tertinggal dalam lingkup keberlangsungan hidup nelayan. Ritual sedekah laut sangat kental terasa di wilayah Jawa khususnya Pantai Selatan Jawa. Ritual sedekah laut dikenal pada masyarakat awam Jawa dengan definisi pemberian macam-macam sesaji kepada yang mbau rekso atau yang menguasai laut selatan yang dikenal dengan sebutan kanjeng ratu kidul, sebagai bentuk rasa syukur (berterima kasih) atas rejeki laut dan keselamatan yang telah diterima saat melaut.

 Di daerah Cirebon dan Cilacap tradisi sedekah laut diadakan setiap setahun sekali yaitu pada bulan Sura (nama salah satu bulan pada tanggalan jawa) atau Muharam (nama salah satu bulan pada tanggalan islam) bertepatan dengan hari Jum’at kliwon atau Selasa kliwon.

TEORI MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU BUDHA KE INDONESIA

Jalur Perdagangan India-Cina melalui Indonesia
Wilayah Indonesia terdiri atas pulau besar dan kecil yang dihubungkan oleh selat dan laut merupakan lalu lintas utama penghubung antarpulau. Pelayaran ini dilakukan dalam rangka mendorong aktivitas perdagangan. Pelayaran perdagangan yang dilakukan oleh kerajaan-kerajaan di Indonesia bukan hanya dalam wilayah Indonesia saja, tetapi telah jauh sampai ke luar wilayah Indonesia. Posisi Indonesia yang strategis di tengah-tengah jalur hubungan dagang Cina dengan Romawi, maka terjadilah hubungan dagang antara kerajaan-kerajaan di Indonesia dan Cina beserta India.

Penyiaran Agama Hindu di Indonesia Proses masuknya agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh kaum pedagang, baik pedagang India yang datang ke Indonesia maupun pedagang dari wilayah Indonesia yang berlayar ke India. Akan tetapi, di lain pihak terdapat beberapa teori yang berbeda tentang penye-baran agama Hindu ke Indonesia. Pendapat atau teori tersebut di antaranya:

1. Teori Sudra, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh orang-orang India yang berkasta Sudra, karena mereka dianggap sebagai orang-orang buangan.
2. Teori Waisya, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh orang-orang India berkasta Waisya, karena mereka terdiri atas para pedagang yang datang dan kemudian menetap di salah satu wilayah di Indonesia. Bahkan banyak di antara pedagang itu yang menikah dengan wanita setempat.
3. Teori Ksatria, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh orang-orang India berkasta Ksatria. Hal ini disebabkan terjadi kekacauan politik di India, sehingga para ksatria yang kalah melarikan diri ke Indonesia. Mereka lalu mendirikan kerajaan-kerajaan dan menyebarkan agama Hindu.
4. Teori Brahmana, menyatakan bahwa penyebaran agama Hindu dilakukan oleh kaum Brahmana. Kedatangan mereka ke Indonesia untuk memenuhi undangan kepala suku yang tertarik dengan agama Hindu. Kaum Brah¬mana yang datang ke Indonesia inilah yang mengajarkan agama Hindu kepada masyarakat.
PERKEMBANGAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU-BUDDHA DI INDONESIA
Tersebarnya pengaruh Hindu dan Buddha di Indonesia menyebabkan terjadinya berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Perubahan-perubahan itu terlihat dengan jelas pada kehidupan masyarakat Indonesia di berbagai daerah di Indonesia.

1. Fakta tentang Proses Interaksi Masyarakat di Berbagai Daerah dengan Tradisi Hindu-Buddha
Munculnya pengaruh Hindu-Buddha (India) di Indonesia sangat besar dan dapat terlihat melalui beberapa hal seperti:

a. Seni Bangunan
Seni bangunan yang menjadi bukti berkembangnya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia pada bangunan Candi. Candi Hindu maupun Candi Buddha yang ditemukan di Sumatera, Jawa dan Bali pada dasarnya meru¬pakan perwujudan akulturasi budaya lokal dengan bangsa India. Pola dasar candi merupakan perkembangan dari zaman prasejarah tradisi megalitikum, yaitu bangunan punden berundak yang mendapat pengaruh Hindu-Buddha, sehingga menjadi wujud candi, seperti Candi Borobudur.

b. Seni Rupa/Seni Lukis
Unsur seni rupa atau seni lukis India telah masuk ke Indonesia. Hal ini terbukti dengan telah ditemukannya area Buddha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai. Juga patung Buddha berlanggam Amarawati ditemu-kan di Sikendeng (Sulawesi Selatan). Seni rupa India pada Candi Borobudur ada pada relief-relief ceritera Sang Buddha Gautama. Relief pada Candi Borobudur pada umumnya lebih menunjukkan suasana alam Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan rumah panggung dan hiasan burung merpati. Di samping itu, juga terdapat hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan tersebut merupakan lukisan asli Indonesia, karena lukisan seperti itu tidak pernah ditemukan pada candi-candi yang ada di India. Juga relief Candi Prambanan yang memuat cerita Ramayana.

c. Seni Sastra
Seni sastra India turut memberi corak dalam seni sastra Indonesia. Bahasa Sanskerta sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Indonesia. Prasasti-prasasti awal menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia, seperti yang ditemukan di Kalimantan Timur, Sriwijaya, Jawa Barat, Jawa Tengah. Prasasti itu ditulis dalam bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.

d. Kalender
Diadopsinya sistem kalender atau penanggalan India di Indonesia merupakan wujud dari akulturasi, yaitu dengan penggunaan tahun Saka. Di samping itu, juga ditemukan Candra Sangkala atau kronogram dalam usaha memperingati peristiwa dengan tahun atau kalender Saka. Candra Sangkala adalah angka huruf berupa susunan kalimat/ gambaran kata. Bila berupa gambar harus dapat diartikan ke dalam bentuk kalimat.

e. Kepercayaan dan Filsafat
Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha ke Indonesia, bangsa Indonesia telah mengenal dan memiliki kepercayaan, yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang. Kepercayaannya itu bersifat animisme dan dinamisme. Kemudian, masuknya pengaruh Hindu-Buddha, ke Indonesia mengakibatkan terjadinya akulturasi. Masuk dan berkembangnya pengaruh terutama terlihat dari segi pemujaan terhadap roh nenek moyang dan pemujaan dewa-dewa alam.

f . Pemerintahan

Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha, bangsa Indonesia telah mengenal sistem pemerintahan. Sistem pemerintahan kepala suku berlangsung secara demokratis, yaitu salah seorang kepala suku merupakan pemimpin yang dipilih dari kelompok sukunya, karena memiliki kelebihan dari anggota kelornpok suku lainnya. Akan tetapi, setelah masuknya pengaruh Hindu-Buddha, tata pemerintahan disesuaikan dengan sistem kepala pemerintahan yang berkembang di India. Seorang kepala pemerintahan bukan lagi seorang kepala suku, melainkan seorang raja, yang memerintah wilayah kerajaannya secara turun-temurun (Bukan lagi ditentukan oleh kemampuan, melainkan oleh keturunan).

Wednesday, 20 August 2014

Pembagian Zaman Prasejarah & Manusia Purba

1.    

PEMBAGIAN ZAMAN PRAAKSARA DAN PERALATANNYA

A.   Berdasarkan Geologi
·        Zaman Arkaezoikum (zaman tertua), berlangsung sekitar 2500 juta tahun yang lalu, belum ada kehidupan karena bumi masih dalam proses pembentukan serta masih sangat panas
·        Zaman Paleozoikum (zaman primer), pada masa ini suhu bumi menurun/ mulai mendingin. Zaman ini berlangsung sekitar 340 juta tahun yang lalu, telah muncul makhluk hidup bersel satu yang diperkirakan sebagai makhluk hidup yang pertama kali menghuni bumi.
·        Zaman Mesozoikum/Zaman Sekunder (Zaman Reptile). Berlangsung sekitar 140 juta tahun yang lalu. Di zaman ini hidup dinosaurus.
·        Zaman Neozoikum. Zaman yang sudah mulai stabil di mana di mana sudah ada mamalia hidup dan pada masa ini reptile besar berkurang, dibagi menjadi 3 bagian:
-Zaman Divilum / Pleistosen atau disebut  juga dengan zaman es karena pada zaman ini es didaerah kutub mulai mencair karena perubahan iklim yang berlangsung sekitar 600.00 tahun yang lalu. Manusia juga sudah mulai hidup pada zaman ini.
 -Zaman Alluvium / Holosen berlangsung sekitar 20.000 tahun yang lalu di tandai dengan munculnya nenek moyang dari manusia modern yaitu homo.

B. Berdasarkan Arkeologi
 a. Zaman Batu
 b. Zaman Logam
 c. Zaman Besi

A.     Zaman batu
Zaman batu menunjuk pada suatu periode di mana alat-alat kehidupan manusia terbuat dari batu, meskipun ada juga alat-alat tertentu yang terbuat dari kayu dan tulang. Tetapi, pada zaman ini secara dominan alat-alat yang digunakan terbuat dari batu.

1) Zaman batu tua (Palaeolithikum)
Zaman batu tua merupakan suatu masa di mana hasil buatan alat-alat dari batunya masih kasar dan belum diasah sehingga bentuknya masih sederhana.
·        Kapak genggam
Disebut "chopper" (alat penetak/pemotong). Fungsinya memotong, dan menguliti binatang.
·        Kapak berimbas
Fungsinya untuk merimbas kayu, memahat tulang, senjata.
·        Flakes
Terbuat dari batu Chalcedon, dapat digunakan untuk mengupas makanan, berburu.
Contoh lain: alat dari tanduk rusa

2) Zaman batu madya (Mesolithikum)
Zaman batu madya merupakan masa peralihan di mana cara pembuatan alat-alat kehidupannya lebih baik dan lebih halus dari zaman batu tua.
·        Pebble (kapak genggam Sumatra)
Ditemukan di Sumatra. Berasal dari batu kali yang dipecah-pecah.
·        Hacheour (kapak pendek)
Sejenis kapak tetapi bentuknya pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan hachecourt/kapak pendek.
·        Pipisan
Batu-batu penggiling beserta landasannya. Fungsinya menggiling makanan.

3) Zaman batu muda (Neolithikum)
Zaman batu muda merupakan suatu masa di mana alat-alat kehidupan manusia dibuat dari batu yang sudah dihaluskan, serta bentuknya lebih sempurna dari zaman sebelumnya.
·        Kapak Persegi
Yang ukuran besar disebut beliung. Yang ukuran kecil disebut Tarah/Tatah.
·        Kapak Lonjong
 Terbuat dari batu kali,  warnanya hitam. Bentuknya bulat telur, halus. Kapak lonjong besar disebut Walzenbeil dan yang kecil disebut Kleinbeil.  
Contoh lain: kapak bahu, perhiasan dari kulit kayu, tembikar, pakaian dari kayu halus.

4) Zaman batu besar (Megalitikum)
Di zaman ini manusia sudah dapat membuat dan meningkatkan kebudayaan yang terbuat dan batu-batu besar, sudah mengenal kepercayaan terhadap roh nenek moyang.
·        Punden Berundak-undak
Bangunan dari batu yang bertingkat-tingkat dan fungsinya untuk tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal. 
·         Dolmen
Berupa meja dari batu yang berfungsi sebagai tempat meletakkan saji-sajian untuk pemujaan. Terkadang di bawah dolmen diletakkan mayat sehingga disebut kuburan batu.
·        Sarkofagus
Peti dalamnya yang ditemukan mayat& bekal kubur sperti periuk, kapak persegi, perhiasan dll
Contoh lain: menhir, waruga, arca batu, peti kubur

B.      Zaman Logam (Perunggu/Perundagian)
Dimulainya zaman logam bukan berarti berakhirnya zaman batu, karena pada zaman logam pun alat-alat dari batu terus berkembang bahkan sampai sekarang. Nama zaman logam hanya untuk menyatakan bahwa pada zaman tersebut alat dari logam telah dikenal &dipergunakan secara dominan.
·        Kapak Corong (Kapak Perunggu)
Kegunaannya sebagai alat perkakas.
·        Nekara Perunggu (Moko)
Fungsinya untuk acara keagamaan, maskawin.
Contoh lain: perhiasan perunggu, candrasa, bejana perunggu, arca perunggu.

3. Zaman Besi
Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu. Benda peninggalan zaman besi tidak banyak ditemukan karena sifatnya yang mudah berkarat.
·        Mata Tombak
Mata tombak ternyata diciptakan jauh lebih lama daripada yang diduga. Alat tersebut diciptakan sejak zaman Homo heidelbergensis atau sekitar 500.000 tahun lalu.
·        Kapak
Kapak adalah salah satu alat manusia yang sudah sangat tua usianya, sama umurnya dengan saat manusia pertama kali membuat alat dari batu dan kayu. 
Contoh lain: mata bajak, sabit, pedang, mata panah

2. MANUSIA PRAAKSARA DI INDONESIA DAN DAERAH ASALNYA      
1.     PITHECANTHROPUS
a.     PITHECANTHROPUS ERECTUS
Artinya Manusia kera yang berjalan tegak, berdasarkan fosil yang di temukan di desa Trinil lembah bengawan solo oleh E. Dubois (1890). Fosil yang ditemukan berupa tulang rahang atas, tengkorak, dan tulang kaki.
b.     PITHECANTHROPUS MOJOKERTENSIS
Disebut juga Pithecanthropus robustus. Fosil manusia purba ini ditemukan oleh Von Koeningswald pada tahun 1936 di Mojokerto, Jawa Timur. Fosil yang ditemukan hanya berupa tulang tengkorak anak-anak.
c.     PITHECANTHROPUS SOLOENSIS
Ditemukan di dua tempat terpisah oleh Von Koeningswald dan Oppernoorth di Ngandong dan Sangiran antara tahun 1931-1933. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak dan juga tulang kering.
Ciri-Ciri pithecantropus:
·        Tinggi tubuh antara 165-180 cm, badan tegap namun tidak setegap Meganthroupus
·        Tonjolan kening tebal&melintang sepanjang pelipis,volume otak antara 750 –1350 cc.
·        Mempunyai rahang yang kuat dan geraham yang besar, hidung lebar, tidak berdagu.
·        Makanan berupa tumbuhan dan daging hewan buruan.


2.     MEGANTHROPUS PALEOJAVANICUS
Ditemukan di Sangiran Jawa tengah pada tahun 1941 oleh Van Koenigswald. Merupakan manusia yang berasal dari Jawa dan mempunyai tubuh yang besar. Fosil tersebut tidak ditemukan dalam keadaan lengkap, hanya berupa beberapa bagian tengkorak, rahang bawah, serta gigi-gigi yang telah lepas. Diperkirakan fosil telah berumur 1-2 Juta tahun.
Ciri-Ciri:
·        Mempunyai tonjolan tajam di belakang kepala.
·        Bertulang pipi tebal dengan tonjolan kening yang mencolok.
·        Mempunyai otot kunyah, gigi, dan rahang yang besar dan kuat, tidak punya dagu
·        Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan.

3.  HOMO
Manusia purba dari genus Homo adalah jenis manusia purba yang berumur paling muda, fosil manusia purba jenis ini diperkirakan berasal dari 15.000-40.000 tahun SM. Dari volume otaknya yang sudah menyerupai manusia modern, dapat diketahui bahwa manusia purba ini sudah merupakan manusia (Homo) dan bukan lagi manusia kera (Pithecanthrupus). Homo merupakan manusia purba yang memiliki fikiran yang cerdas.
a. HOMO SOLOENSIS
Ditemukan oleh Von  Koeningswald dan Weidenrich antara tahun 1931-1934 disekitar sungai bengawan solo. Fosil yang ditemukan hanya berupa tulang tengkorak.
b.     HOMO WAJAKENSIS
Ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889 di Wajak, Jawa Timur. Fosil yang ditemukan berupa rahang bawah, tulang tengkorak, dan beberapa ruas tulang leher.
C.    HOMO FLORENSIS
Ditemukan  saat penggalian di Liang Bua, Flores oleh tim arkeologi gabungan dari Puslitbang Arkeologi Nasional, Indonesia dan University of New England, Australia pada tahun 2003. Saat dilakukan penggalian pada kedalaman lima meter, ditemukan kerangka mirip manusia yang belum membatu (belum menjadi fosil) dengan ukurannya yang sangat kerdil. Manusia kerdil dari Flores ini diperkirakan hidup antara 94.000 dan 13.000 tahun SM.
Ciri-ciri homo:
·        Memiliki bentuk tubuh yang hampir sama dengan bentuk tubuh manusia pada zaman sekarang.
·        Banyak meninggalkan benda-benda budaya.
·        Memilki kehidupan sederhana.